Senin, 29 April 2013

PLANETARIUM

A NARUTO FICT
BY NAMIKAZE MUTIARA HANA
ARTI CINTA
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: Namikaze Minato & Uzumaki Kushina
Genre: masih dengan Romance, tragedy, dll
Warning: lebih aneh, ga je, de el el
DON'T LIKE DON'T READ

Dalam balutan kimono merah, Kushina menari di depan para tamu dengan gemulai. Ia memutar tubuhnya yang ramping, tanpa berpindah barang sejengkal dari tempatnya berdiri. Dan "crak!", ia kepakkan dengan keras kipas kertas di genggaman jemarinya.
 Wajah putihnya pun tertutup separo. Perlahan, ia membuka lebar tangannya. Sorot matanya lurus, tanpa gurat senyum, meski ia menyadari tengah tenggelam dalam alunan lembut petikan shamisen (gitar tradisional Jepang).
Malam itu bukanlah pertama kalinya gadis 19 tahun itu tampil. Sudah lebih dari tiga tahun ia melakukan profesi sebagai seorang geisha.
Karena kepandaiannya dalam berbicara berbagai bahasa, Kushina selalu banyak mendapat tamu asing. Bahkan sudah ada yang sampai berkali-kali menjadi tamu Kushina.
Kali pertama ia manggung saat masih berusia 16 tahun. Kushina butuh waktu yang cukup lama untuk menjadi seorang geisha seutuhnya. Ia belajar dengan sungguh-sungguh mengenai bentuk seni, yang tak hanya untuk menghibur, namun merasuk dalam kehidupan pribadi sehari-hari.
Bagaimana ia menuangkan teh dari teko dengan tangannya yang gemulai, tutur katanya yang lembut nan cerdas, dan bagaimana ia melayani tamu yang kebanyakan dari kelas menengah ke atas itu.
Ini bukan suatu pilihan bagi Kushina. Kemiskinan menjadi suatu alasan pembenaran untuk ia menjadi seorang geisha. Jauh sebelum ia benar-benar menjadi seorang geisha, ia belajar pada Tsunade, guru geisha-nya di Okiya. Karena kebaikan Tsunade, hasil kerja keras Kushina tak perlu ia berikan pada gurunya. Ia simpan lalu dikirim untuk penghidupan kedua orang tuanya di desa.
Kushina terus menari. Tariannya yang begitu anggun dan menggoda membuat tamu terkagum. di ruang tersebut Kushina tak sendiri. Ia bersama dengan gurunya, Tsunade dan sahabatnya Mikoto. Tsunade begitu menghayati permainan shamisennya. Sedangkan Mikoto memainkan tsutsumi. Alunan musik jepang sangat terasa di ruangan tersebut. Menghipnotis semua tamu yang ada didalamnya.
Sejenak ia melontarkan pandangannya pada tamu yang ada di hadapannya. Empat pria bule yang asik memperhatikan penampilan mereka dan satu pria jepang. Semua terlihat sedang dipengaruhi oleh alkohol yang mereka minum, kecuali si pria berambut jabrik pirang bermata biru. Ia dengan santai memperhatikan penampilan khusus mereka.
Selesailah pertunjukan oleh ketiga geisha itu. Mereka para geisha langsung menghampiri tamunya. Tsunade bercengkrama dengan dua pria bule. Sepertinya mereka berasal dari prancis karena aksen bahasa inggris mereka tidak terlalu bagus. Lalu mikoto melakukan hal yang sama dengan dua pria bule juga. Dan Kushina malam ini hanya melayani pria berambut jabrik pirang bermata biru itu. Ketika kushina mendekatinya, pria itu tersenyum sangat menawan.
"tarianmu indah sekali". Katanya sambil memperhatikan Kushina.
Entah mengapa, kalimat yang terlontar dari pria itu membuat jantung Kushina berdebar kencang. Ia mencoba mengendalikan dirinya untuk tak terbawa oleh perasaannya sendiri.
"terimakasih tuan". Kushina berusaha tersenyum semanis mungkin. Baru kali ini ia merasa sanjungan dari seorang pria yang membuatnya sangat senang. Kushina lalu menuangkan sake ke dalam gelas kecil yang terbuat dari keramik untuk ia berikan pada tamu khususnya itu. Ia berusaha untuk tidak gugup dan melakukan gerakan sensualitas.
"oh maaf, aku tidak menyukai minuman beralkohol itu". Pria itu menolak secara halus.
"maaf tuan. Saya akan membuatkan teh untuk anda". Kushina lalu membersihkan mangkuk yang ukurannya pas segenggaman tangan. Sebuah teko berisi air panas kemudian masuk ke dalam mangkuk tersebut. Gerakannya memutari bagian dalam mangkuk dan sangat perlahan. Dengan sengaja, Kushina menarik kimononya, sehingga keindahan kulit lengannya dapat dilihat oleh lelaki yang menjadi tamunya. Pria itu menarik ludah ketika mendapat pemandangan seperti itu. Setelah dua menit berlalu, Kushina menyerahkan teh itu pada tamunya.
"apakah kau bisa memberitahuku bagaimana cara meminum teh ini?". Pria itu mengenyitkan dahinya.
"tentu saja tuan". Kushina tersenyum geli melihat tamunya yang satu ini. Berwajah jepang tapi tidak tahu bagaimana cara meminum teh yang benar. Kushina lalu membuat kembali teh untuk dirinya. Setelah selesai ia mempraktikannya langsung. Kushina memiringkan sedikit tutup mangkuk, kemudian ia langsung meminum teh tersebut. Si priapun mencoba untuk melakukan hal yang sama seperti Kushina. Namun ia malah menelan daun tehnya.
"ueeee, daun tehnya tertelan". Kata pria itu sambil menjulurkan lidahnya. "pahit sekali". Sambungnya.
Kushina hanya tersenyum. "mau saya tambahkan gula?".
"tidak usah, ah sudah cukup". Pria itu menaruh kembali mangkuknya. Ia memperhatikan Kushina.
"apa aku boleh tau siapa namamu?"
"panggil saja aku Shina". Jawab Kushina selembut mungkin.
"Shina, ya panggil saja aku Minato. Kau tak perlu seformal itu terhadapku Shina".
"maaf tuan, ini memang sudah menjadi tugasku sebagai seorang geisha".
"hmm begitu. Aku baru pertama kali kemari dan aku cukup terkesan. Kau tau, mereka berempat menculikku setelah rapat itu". Pria bernama Minato melihat ke empat rekannya yang sedang asik mengobrol dengan Tsunade dan Mikoto. Kushina hanya tersenyum mendengarnya.
"ayahku berasal dari Amerika dan menikahi seseorang dari negeri ini. Kami tinggal disana. Jujur saja, baru kali ini aku mampir ke Jepang karena ada yang mesti kuurusi. Perusahaan dan pertunangan sialan itu". Minato membuang muka. Ia nampak kesal karena kembali teringat perjodohan yang sangat ia tidak suka. Lalu ia mengambil gelas berisi sake yang di tuang Kushina tadi dan meminumnya.
"apa alasan tuan untuk menolak pertunangan tersebut?". Kushina berusaha selembut mungkin. Ia tidak ingin tamu yang ada di hadapannya merasa tersinggung.
"ya wanita yang akan bertunangan denganku memang cantik, ah tetap saja dia bukan pilihanku". Minato kembali menatap Kushina dengan tajam.
Jantung Kushina begitu berdetak kencang. Mata biru itu seperti menghipnotisnya. Ia berusaha untuk menutupi kecanggungannya di hadapan tamunya ini.
"apa kau tau bagaimana rasanya jatuh cinta Shina?. Di usiaku yang sudah cukup dewasa ini aku belum tau apa artinya itu cinta". Minato mulai sedikit mabuk. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Kushina.
Kushina sontak kaget dengan tingkah tamunya. Namun ia berusaha untuk tetap tenang.
"untuk mengenalnyapun tidak diperbolehkan, apalagi untuk mengetahui bagaimana rasanya".
"benarkah seorang geisha tidak boleh tahu apa itu cinta?". Minato kembali menatap Kushina.
Kushina hanya mengangguk pelan.
"seorang geisha baru diperbolehkan jatuh cinta apabila ia telah mempunyai seorang Danna, pria yang akan menjadi kekasih akhirnya. Yang akan membiayai seluruh kebutuhan hidup dari geisha. Akan tetapi jika seorang geisha menikah, maka ia tidak di perbolehkan untuk menjadi geisha kembali"
"benarkah? Apa kau mau aku menjadi Danna-mu Shina?". Minato kembali menatap Kushina. Ia kini terlihat serius.
Kushina tersenyum. "anda sedang mabuk tuan, saya mengerti".
"tidak tidak, aku serius. Aku hanya mabuk sedikit". Minato masih memandang Kushina lekat-lekat.
"apa anda yakin? Saya hanya seorang geisha yang tidak ada apa-apanya dengan gadis yang akan bertunangan dengan tuan". Kushina bertahan untuk tetap tersenyum.
"kau jangan berkata begitu. Kau menurutku lebih cantik. Kau tahu mengapa aku menanyakan demikian?".
Kushina hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"karena, saat ini aku merasakan apa yang sering orang bilang padaku".
"maksud tuan?"
"kata orang, jika seorang pria berdekatan dengan seorang wanita, lalu ada sesuatu perasaan yang aneh yang timbul di sini". Minato menunjuk ke dadanya. "di hati ini, mereka bilang itu cinta. Dan aku merasakannya sejak kau menari dengan indah".
Sontak jantung Kushina berdetak lebih kencang. Pengakuan dari tamunya membuat ia gelagapan. Ia tiba-tiba merasa dadanya sesak. Rasa haus akan kasih sayang kini mulai memenuhi relung hatinya. Pria yang jadi tamunya kali ini benar-benar membuat Kushina tak berdaya.
"aku tahu ini sangat terlalu cepat. Tapi aku akan memberikanmu waktu untuk berfikir. Satu minggu lagi aku akan kembali kesini". Minato kembali tersenyum. Lalu mengalihkan pandangannya ke teman-temannya. Ternyata mereka mabuk berat dan mulai kehilangan kesadarannya.
"ah mereka itu merepotkan, kau bisa panggilkan supirku yang ada di luar Shina?"
"baik tuan, apa anda akan segera pulang?".
"ya, kau bisa lihat sendiri mereka sudah pingsan begitu". Minato kembali tersenyum. Kushina langsung keluar dari ruang minum teh tersebut dan memanggil supir Minato. Supir minato langsung membawa satu persatu teman Minato ke dalam sebuah mobil. Mereka telah berada di luar ruangan dan mengantarkan sampai ke depan pintu.
"ku harap kau tidak mengecewakanku Shina". Minato membisikan kalimat itu dekat dengan telinga Kushina. Cukup membuat Kushina merinding mendengarnya.
Kushina hanya tertunduk. Ia tidak berani melihat mata Minato. Minato masuk ke dalam mobil dan merekapun berlalu. Tsunade dan Mikoto langsung kembali masuk. Sedangkan Kushina masih termenung dengan perkataan Minato tadi.
Tsunade, Kushina dan Mikoto kembali ke ruang minum teh tempat mereka melayani para tamu itu. mereka membereskan ruangan tersebut.

"Ini terlalu singkat". Kata Tsunade sambil membereskan gelas-gelas berisi sake.
"Bukankah itu bagus Tsunade-sama". Mikoto membantu Tsunade.
"Ya, aku heran baru pukul sebelas mereka sudah pulang. biasanya sampai pagi hari". Tsunade kembali teringat akan tamunya tiga hari yang lalu.
"Tsunade-sensei, itu berarti waktu kita untuk beristirahat semakin banyak". Kushina menimpali
"Kalian berdua pergi ke kamar. Biar aku saja sendiri yang membereskan semua ini".
"Baik". Jawab mereka berdua berbarengan. Kushina dan Mikoto membungkukkan tubuhnya lalu mereka meninggalkan Tsunade, gurunya.
.
.
Di kamar Kushina dan Mikoto masih berbincang-bincang.
"Kushina, sepertinya kau tadi akrab sekali dengan pria jabrik itu". Kata Mikoto yang masih sibuk membersihkan make upnya.
"Kau tau Mikoto? Dia ingin menjadi Danna-ku. Itu lucu sekali". Sedangkan Kushina masih sibuk membuka kimononya.
"APA?". Mikoto langsung menatap Kushina dengan serius. "Kau menerimanya?".
"Nee, bersihkan dulu make up mu itu. Nanti kuceritakan". Kushina berhasil membuka kimononya. Ia telah berganti dengan pakaian tidur. Wajahnya sudah bersih dari dandanan seorang geisha. Mikoto memperhatikan Kushina seksama. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda pada sahabatnya itu. "Jangan-jangan Kushina?". Batinnya dalam hati. Mikoto segera memberihkan sisa tata riasnya lalu membuka kimononya. Ia sama sekali tidak merasa canggung untuk memperlihatkan tubuh indahnya pada Kushina, begitu pula dengan Kushina. Mereka sudah tidak segan satu sama lain. Ikatan yang terjalin bukan hanya hubungan sebagai sahabat, tapi sudah seperti keluarga sendiri. Setelah ia berganti dengan pakaian tidur, Mikoto menghampiri Kushina yang sedang terduduk di ranjangnya.
"Kushina, cepat kau ceritakan padaku. Aku penasaran sekali". Mikoto tampak antusias.
"Baiklah, kita mulai dari mana tebane?". Wajah Kushina sedikit memerah.
"Ya dari awal pertama kau bertemu dengan si dia". Mikoto mulai menggoda sahabat baiknya itu.
"emm ya begitulah, kami berkenalan, lalu dia menceritakan sedikit hidupnya". Kushina menundukan kepalanya. Ia tak ingin sahabatnya tahu wajahnya yang terasa hangat. Ia sendiri tak tahu mengapa dirinya seperti itu.
"Lalu? Lalu?". Mikoto terlihat sangat penasaran. Raut mukanya terus menyelidik.
"Dia berkata bahwa dia baru pertama kali ke sini untuk mengurus perusahaan dan pertunangannya. Tapi dia menolak. Dia ingin menjadi Danna-ku mikoto". Warna merah dari wajahnya berangsur-angsur menghilang. Kushina kini nampak ada guratan kesedihan dari pelupuk matanya.
"Menurutmu, apa dia berkata seperti itu padamu hanya karena ia ingin membatalkan pertunangannya itu?"
"Akupun berfikir demikian". Kushina menundukan kepalanya. Rambut merahnya menutupi sebagian wajahnya.
"Lelaki jabrik itu sepertinya memang masih muda dan belum menikah. Berbeda dari keempat temannya. Ah Shina-chan, kau tau kan takdir bagi seorang geisha?". Mikoto menarik nafas sejenak. Ia tak ingin sedikitpun menyakiti hati sahabatnya itu yang menurutnya baru pertama merasakan cinta. "Karena takdir seorang geisha hanya menjadi selir, atau tidak menikah". Mikoto memalingkan wajahnya. "Manusia mana yang bisa hidup tanpa cinta? Hidup tanpa cinta seperti pohon tanpa buah. Hidup tanpa cinta seperti sebuah rumah mewah tanpa ada apapun di dalamnya. Hidup tanpa cinta bukanlah hidup. Tapi kau sudah tahu kan Shina-chan akan semua resiko itu?" suara Mikoto tertahan. Ia mencoba mengendalikan dirinya sendiri. Apa yang baru saja ia ucapkan pada kushina sebenarnya ungkapan hatinya yang terasa pedih. Mikoto jadi teringat apa yang di katakan gurunya, Tsunade.
Flashback
Di sebuah ruangan, Tsunade, guru geisha dari Kushina dan Mikoto sedang memberitahukan sesuatu pada kedua muridnya itu. Pada saat itu, Kushina dan Mikoto baru saja akan memulai lembaran baru hidup mereka sebagai seorang geisha.
"Bagaimana caranya menjadi seorang geisha?". Tsunade membuka percakapan.
"Sebenarnya, kalian tak memerlukan "kualifikasi" khusus. Juga, tidak ada batasan. kalian butuhkan adalah "tata krama sebagai seorang manusia" dan "hati yang tulus". Kalian bisa belajar tentang tata krama sebanyak mungkin nanti, tapi tingkat minimal tata krama yang diminta dari seorang geisha berbeda dari orang biasa. kalian akan aku didik tata krama secara menyeluruh agar paham segala sesuatu tentangnya. Kalian akan belajar beragam dasar: bagaimana menghormati pria dan orang yang lebih tua, dan bagaimana cara menjawab dan berbicara dengan baik dan benar. Jiwa keramahtamahan boleh dikata mencerminkan rasa keindahan orang Jepang, dan sangat dipengaruhi oleh bakat bawaan serta rasa". Tsunade menuangkan ocha ke dalam sebuah gelas lalu meminumnya.
"Apa kalian tahu, profesi seorang geisha sering di samakan dengan profesi pekerja seks. Jujur saja, itu pemahaman yang sangat fatal. Kalian bisa menebak dari namanya gei adalah seni, dan sha adalah orang. Kami, para geisha menari atau memetik shamisen di pesta-pesta pribadi, juga mengobrol dengan klien dan menciptakan suasana yang menghibur mereka. Pada dasarnya, membuat acara terus berlangsung adalah tugas geisha. Dahulu, Geisha adalah wanita Jepang yang bekerja sebagai pelacur selama periode Pendudukan Sekutu di Jepang. Mereka dilayani secara eklusif. Kebanyakan dari negara Amerika sana. Lalu mereka salah menyebut malah berkata "Geesha."salah ucapan itu tetap ada di antara beberapa orang Barat. Ternyata mereka tidak bisa membedakan bahwa mana seorang geisha asli dan mana yang hanya meniru tampilan geisha. Tak lama setelah kedatangan mereka di tahun 1945, mereka orang asing itu berkumpul di Ginza dan berteriak serentak, "Kami ingin anak-anak perempuan geesha ! ". Akhirnya, istilah "geisha" menjadi kata umum bagi setiap wanita pelacur.". Tsunade memperhatikan kedua muridnya itu. Sepertinya mereka sangat tertarik.
"Sensei, aku ingin tahu, awal mula sensei menjadi seorang geisha?". Kushina paling terlihat penasaran.
"Baiklah, dulu Sejak SMA aku selalu ingin menjadi seorang maiko atau bisa di sebut geisha pemula, ya seperti kalian berdua. tapi kau hanya bisa menjadi maiko bila berusia diantara 15 dan 20 tahun. Aku sadar kalau ingin menjadi maiko di usia 16 tahun dan pada waktu itu usiaku 15 tahun. orangtuaku benar-benar bersikeras agar aku menyelesaikan sekolah terlebih dahulu. aku mencoba menghubungi beberapa rumah dan organisasi geisha di Kyoto tapi jawaban yang ku dapat hanyalah "Mustahil!".Lalu aku menyerah dan memulai pekerjaan normal, tapi tidak, aku tidak bisa menyerah. Dan tepat ketika aku memikirkan cara lain untuk mewujudkannya aku bertemu dengan salah seorang geiko senior yang akhirnya merekrutku. aku tak memercayai mataku sendiri saat tahu ada geiko di utara Shinchi, kawasan yang penuh dengan klub berkelas. Dan ketika aku melihat foto-foto mereka dengan kimono-kimono indah itu… itu adalah cinta pada pandangan pertama! Jadi aku memohon agar mereka menghubungi dan menemuiku. Aku tak bisa menahan perasaan malu, bersama para wanita cantik, bertanya-tanya dalam hati, "Apa mereka akan menerima gadis kecil sepertiku?".Mereka menerimaku sebagai geisha magang di rumah teh yang indah itu, dan begitulah aku menjadi Tsunade, sang geiko".
"Tsunade-sama, apa ada batasan usia untuk menjadi seorang maiko?". Kini giliran Mikoto yang bertanya.
"Tak ada batasan usia untuk menjadi seorang Maiko, tapi geisha adalah profesi seumur ini, perempuan berbicara tentang "memiliki keterampilan yang menjual".Nah, rasanya geisha adalah pelopor ide ini. Meskipun mereka memanfaatkan bakat femininnya, mereka juga mampu menghidupi diri, dan menurut pendapatku, geisha adalah "wanita karir" sejati".
"Ah sensei, kenapa sensei tidak pensiun dari geisha? Bukankah usia sensei sudah seharusnya menikah?". Kata Kushina dengan polosnya tanpa menyadari bahwa pertanyaan itu cukup membuat Tsunade tersinggung.
"Hahaha, usiaku sudah hampir kepala tiga. Mana ada yang mau menjadi Danna-ku. Paling-paling mereka memintaku jadi selirnya". Tsunade tersenyum namun ia merasa luka lamanya kembali menyelimuti dirinya.
"Tiga puluh tahun? Tapi Tsunade-sama masih terlihat sangat cantik". Mikoto memperhatikan penampilan Tsunade.
"Ah masa sih tidak ada yang mau menjadi Danna sensei". Kushina mengerutkan keningnya.
"Dulu, ada seorang tamu yang memintaku untuk menjadi istrinya. Aku menerimanya karena dia sangat baik di mataku. Namun sayang, hubungan itu terputus setelah tamu itu di bunuh oleh pamannya sendiri". Tsunade menggigit bibir bawahnya. Mencoba untuk tidak menangis di hadapan kedua muridnya. "Padahal saat itu aku merasa sangat-sangat bahagia, namun seketika itu pula aku benar-benar merasa sedih. Jadi aku memutuskan apa yang seharusnya aku lakukan. Menjalani hidup sebagai seorang geisha sampai akhir hidupku. Aku ingin kalian meneruskan profesi ini dan menggantikan diriku jika aku meninggal suatu hari nanti. Kalian akan menciptakan generasi selanjutnya untuk melestarikan kebudayaan negara kita". Tsunade tersenyum lembut. "Aku harap kalian tidak mengenal apa itu cinta. Bukan aku egois, namun aku tak ingin kalian merasakan apa yang aku rasakan dulu. Mungkin memang takdir seorang geisha hanya menjadi selir atau tidak menikah. Hanya mereka saja yang beruntung untuk pensiun dari profesi ini".
Kepedihan yang tiada pernah berakhir
"Kalian mengerti? Kushina, Mikoto?". Tsunade menatap kedua muridnya itu. "Apa kalian sudah benar-benar siap untuk menjadi seorang geisha?"
"Kami siap". Jawab Kushina dan Mikoto berbarengan.
"Aku bertekad untuk menjadi seorang geisha sampai akhir hayatku. Seperti dirimu sensei". Kushina mengepalkan tangan kanannya.
"Aku juga". Mikotopun melakukan hal demikian.
"Baiklah, arigatou Kushina, Mikoto".
Flashback end
Kushina tertegun mendengarnya. Ia tak kuasa menahan tangisannya di hadapan sahabatnya itu. Sungguh ia tidak ingin larut dalam suasana hatinya saat ini. Iapun menjadi teringat dengan apa yang pernah ia ucapkan pada Sensei-nya Tsunade. Perlahan bulir-bulir air mata itu jatuh mengalir dari pelupuk matanya. Mencurahkan apa yang hatinya ungkapkan.
"A-aku tahu. Tapi-".
"Kau menyukainya Shina-chan?". Mikoto memegang pundak Kushina.
"A-aku tidak tahu. Ini begitu aneh". Kushina memalingkan wajahnya. Air mata itu mulai mengalir deras dari mata violetnya. "Aku baru pertama bertemu dan mengenalnya. Tapi dia sungguh membuatku kebingungan seperti ini".
"Shina-chan, kau tidak akan pernah tahu kapan cinta itu datang padamu. Namun jika cinta itu datang, dekaplah dan jangan kau biarkan dia pergi. Jangan sampai kau menyesal Shina-chan. Yakinlah apa yang di yakini oleh hatimu, coba percayakan padanya. apapun keputusanmu, Aku selalu mendukungmu Shina-chan. Aku tahu tentang janji kita pada Tsunade-sama, tapi jalanmu mungkin saja berbeda dengannya". Mikoto memeluk sahabatnya yang tengah menangis. Mencoba menenangkan Kushina yang tengah dilanda kegundahan. Ia sangat mengerti apa yang di rasakan Kushina. Meskipun ia sendiri sampai saat ini belum pernah merasakannya.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa Mikoto". Kushina masih terisak.
"Ini sudah malam Kushina. Aku yakin kau akan menemukan jawaban atas pertanyaanmu itu". Mikoto melepas pelukannya. "Oyasumi". Mikoto tersenyum lalu kembali berbaring di ranjangnya. Tubuhnya membelakangi Kushina. Dan Mikoto menangis.
Kushina mulai mencoba menghentikan air matanya.
"Oyasumi Mikoto. Arigatou". Kushina mencoba membaringkan tubuhnya. Ternyata emosi yang meledak, berpengaruh juga terhadap keadaan fisiknya. Kepalanya terasa berat. Tak berapa Kushina memejamkan matanya. Ia mulai memasuki alam mimpinya.
Sedangkan di sebelah ranjang Kushina, Mikoto masih saja terus menangis. Ia baru menyadari bahwa ternyata ia sangat rapuh. Ia merasa iri pada Kushina, sahabatnya sendiri. Kushina telah merasakan apa yang sering di katakan dengan cinta pertama. Sedangkan dirinya? Semua tamu itu tak ada seorangpun yang bisa menarik hatinya. Ketika ada seorang tamu yang ingin menjadikannya selir, Mikoto menolaknya dengan lembut. Karena ia mempunyai prinsip hidup sendiri, ia tidak akan pernah memilih takdir sebagai seorang geisha untuk menjadi selir. Menjadi selir tentu akan sangat menyakitkan bagi dirinya dan juga istri dari Danna-nya. Walaupun si tamu itu berusaha meyakinkan Mikoto bahwa istrinya tidak apa-apa dan akan menomorsatukan Mikoto, ia tetap menolaknya. ia memutuskan untuk terus menjadi seorang geisha dan mencoba untuk membuang perasaan itu. Mencoba untuk menutup telinga dari jeritan hatinya yang haus kasih sayang. Mikoto terus memikirkannya. Ia lalu mencoba menutup matanya. Mengkhayalkan segala keinginan jiwanya. Memiliki seorang suami yang amat menyayanginya, memiliki dua anak laki-laki yang tampan, hidup seperti selayaknya manusia normal. Mikoto tersenyum di balik tangisannya. Hanya khayalan itulah yang mempu kembali menenangkan hatinya. Iapun mulai larut ke dalam mimpinya.
.
.
Pagi itu akhirnya datang juga. Matahari tampak malu-malu untuk memulai menyinari dunia. Kushina membuka matanya. Perlahan bangun dari dunia mimpinya. Ia melihat sekitar lalu mengucek matanya. Kushina terhenyak, ada sisa air mata di wajahnya. Ia melihat sahabatnya yang masih tertidur . Lalu ia berjalan menuju jendela kamar mereka. Membukanya lalu menghirup udara pagi yang mulai terasa dingin. Daun-daun mulai berwarna kuning dan ada juga yang berwarna merah. Pepohonan di depan halaman itu kini berwarna-warni. Kushina kembali melamunkan sang pria jabrik yang berhasil membuat hatinya galau.
"Kau sudah bangun Shina-chan?". Mikoto menepuk pundak Kushina dari belakang.
"Eh? Iya Mikoto".
"Pagi-pagi kau sudah melamun saja". Mikoto mencubit pipi Kushina. "Duh yang lagi jatuh cinta". Gadis berambut indigo itu kembali menggoda Kushina. Kushina tertunduk dibuatnya.
"Ah kau ini Mikoto. Berhentilah menggodaku seperti itu. Aku malu tebane". Wajah Kushina mulai memerah.
"Hehe, wah tidak terasa ya sebentar lagi tahun baru".
"Hey ini masih bulan november tau". Kali ini Kushina yang mencubit sahabatnya itu.
"Iya sebentar lagi, satu bulan lagi". Mikoto menjulurkan lidahnya. Mengejek Kushina.
"Kau ini semakin lama semakin menyebalkan tebane. Lagian tidak ada yang istimewa di malam tahun baru nanti. Ya seperti tahun kemarin. Payah". Kushina jadi teringat peristiwa yang sangat menyebalkan pada malam tahun baru yang lalu. Dimana kimono yang paling ia suka terciprat air yang tergenang di jalan karena sebuah mobil melaju sangat cepat. Ia mendengus
"Ah kau pasti sedang ingat waktu malam tahun baru kemarin kan Shina-chan? Sudahlah itu takan terjadi lagi".
"Darimana kau tau? Kau seperti bisa membaca apa yang aku fikirkan". Kushina mengenyitkan dahinya.
"Aku menebaknya. Kau berani taruhan?". Mikoto menunjuk Kushina.
"Taruhan? Boleh siapa takut".
"Okeh aku bertaruh kau akan pergi berkencan dengan pemuda jabrik kemarin di malam tahun baru nanti". Mikoto memperlihatkan senyum licik.
"Aku bertaruh-". Kata-katanya terhenti. Ia terlihat berfikir.
"Kenapa kau?"
'Ah Mikotoo kenapa kau bertaruh seperti itu padaku'. Gadis berambut merah itu menggerutu dalam hati.
"Bagaimana?" Mikoto menatap Kushina tajam.
"Kalau itu tidak terjadi, kau yang akan dapat hukumannya Mikoto". Kushina membalas tatapan tajam.
"Baik, tapi kalau itu terjadi kau harus menuruti semua perintahku".
"Eh? Hmm baiklah. Taruhan konyol".
Mikoto tersenyum melihat sahabatnya itu. Lalu seperti biasa ia pergi ke dapur untuk mempersiapkan masakan untuk mereka bertiga. Kushina terlihat masih enggan untuk melangkahkan kakinya dari kamar itu. Ia masih menikmati suasana pagi. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki berlari menuju kamarnya. Mikoto membuka pintu terlalu keras hingga membuat Kushina kaget.
Braakkkkkkk
"Apa yang terjadi?" raut mukanya tiba-tiba memucat. Mikoto terengah-engah. Ia mengambil nafas. Lalu ia tersenyum lebar.
"Kita libur hari ini Shina-chan. Aku ingin membeli beberapa pakaian untuk malam tahun baru nanti".
Kushina terbengong. Ia kira ada sesuatu yang gawat. Ah sahabatnya itu bisa saja membuatnya sweetdrop.
"Itu masih lama Mikoto-chan".
"Ayolah Shina-chan. Tsunade-sensei juga menyuruh kita untuk membeli stok makanan untuk satu minggu kedepan".
"Yasudahlah".
"Apa kau juga mau membeli baju?"
"tidak, aku nanti saja".
"Oh ya nanti kita sekalian ke taman dulu ya. aku ingin melihat Momiji".
"Baiklah Mikoto-chan. Akan kutemani kau". Kushina mencubit pipi sahabatnya itu
"Arigatou. Ayo cepat mandi. Aku juga sudah siapkan makanan. Cepat Tsunade-sensei sudah menunggu".
"Kau menyebalkan Mikoto". Kushina mendengus kesal. Ia lalu berjalan menuju kamar mandi. Mikoto hanya tersenyum senang. Ia sangat menunggu saat-saat untuk berbelanja seperti ini. Berbeda sekali dengan sahabatnya itu yang selalu malas jika di ajak untuk membeli sesuatu.
.
.
Kushina dan Mikoto kini tengah terlihat sedang berjalan di sebuah pasar. Pasar tradisional itu terlihat sangat tertata dan bersih. Di pasar tersebut tidak hanya menjual berbagai jenis sayur atau buah-buahan, tapi ada juga yang menjual berbagai pakaian. Hari itu cukup banyak juga yang berbelanja. Kushina memakai Yukata berwarna biru cerah sedangkan Mikoto memakai yukata berwarna merah marun. Mereka berdua tampak asyik melihat-lihat di sekitarnya. Mikoto lalu mengajak Kushina ke tempat biasa mereka membeli pakaian.
"Konniciwa". Kushina menyapa ramah.
"Konniciwa, wah kalian berdua datang juga. Aku sudah lama menunggu lho". Pak tua itu tersenyum lebar.
"Ah bisa saja Ojiisan ini. Oh ya aku ingin satu kimono yang paling bagus". Mikoto mengambil sebuah kimono berwarna hitam lalu melihatnya.
"Wah aku sudah mempersiapkannya untuk kalian berdua. Sebentar". Pak tua itu terlihat sedang mencari sesuatu. "Nah ini untuk Mikoto dan ini untuk Kushina ". Pak tua itu memberikan dua kimono kepada masing-masing calon pembelinya. Mereka mengambil kimono itu. Sebenarnya sudah lama Kushina dan Mikoto berlangganan di toko tersebut. Sampai-sampai si pemilik toko mengetahui nama mereka berdua. ya walaupun mereka sendiri tidak pernah menanyakan nama si pemilik toko tersebut. Mikoto mendapatkan sebuah kimono dengan warna gold kemerah-merahan dan Kushina mendapatkan kimono berwarna putih dengan corak bunga berwarna biru muda. Mereka berdua terpukau dengan keindahan pakaian khas negara Jepang itu.
"Ojiisan, aku juga ingin kimono yang berwarna putih itu". kata salah seorang remaja di samping Kushina. Kushina hanya tersenyum mendengarnya.
"Gomen, itu spesial untuk pelangganku yang cantik-cantik ini. Aku sengaja pesan kepada temanku produsen pembuat pakaian kimono itu". Pak tua itu tersenyum.
"Ah ini tidak adil". Pembeli itu memanyunkan bibirnya.
"Haha coba kau lihat di sebelah sana. Kimono-kimono itu juga tak kalah bagus". Pak tua itu menunjuk ke salah satu deretan kimono. Pembeli itu melengos.
"Ojiisan, ini harganya berapa?". Mikoto membuka percakapan. Ia sudah jatuh cinta dengan kimono itu.
"Harganya 3000 yen saja".
"Kedua kimono ini sama harganya?"
"Tentu saja".
"Benarkah? Wah aku beli yang ini ya Ojiisan. Terimakasih loh untuk pujiannya. hehehe". Mikoto menyerahkan kimono itu untuk di bungkus. "Kau juga mau beli Kushina?".
"Iie, Gomennasai. aku tidak membawa uang". Kushina menyerahkan kembali kimono itu. "Sebaiknya anda berikan saja kepada gadis tadi".
"Tidak, ini tetap untukmu. Aku akan menyimpannya sampai kau membelinya". Kimono itu di bungkus kembali lalu ia menyimpannya. Pak tua itu lalu memberikan kantung plastik yang berisi kimono milik Mikoto.
"Arigatou Ojiisan. Kami permisi dulu". Kata Kushina dan Mikoto berbarengan.
Mereka berdua keluar dari toko pakaian itu. Mikoto terlihat sangat senang sekali. Kushina memperhatikan sahabatnya itu. Ia tahu Mikoto sudah kehilangan kedua orang tuanya di waktu usianya masih kecil. Namun Kushina selalu merasa bahwa sahabatnya itu terlalu tegar. Apapun kesedihan yang ia rasakan pasti Mikoto menyelipkan senyuman manisnya. Tatapan mata Mikoto selalu membuat orang di sekitarnya nyaman termasuk Kushina.
"Ojiisan baik sekali ya. Dia mau-maunya menjual kimono spesial untuk kita berdua. hahaha. kau kenapa tidak beli saja sih?"
"Uangku masih tidak cukup. Aku harus mengirimkan sebagian uang untuk kedua orang tuaku di desa".
"Oh ya aku lupa. Maafkan aku Shina-chan. Aku merasa tidak enak". seketika itu pula raut ceria Mikoto berubah menjadi murung.
"Tidak apa-apa Mikoto-chan. Mungkin saja suatu hari nanti Ojiisan memberikannya gratis untuk kita. hehe". Kushina tersenyum
"Haha aku berharap begitu. Tapi nanti pasti akan kutemani kau ke tempat Ojiisan. aku janji". Mikoto memegang pundak Kushina.
"Arigatou Mikoto-chan. Ayo kita beli stok makanan".
"Baiklah".
Mereka berdua akhirnya sampai ke tempat para penjual bahan makanan. Mikoto sibuk memilih dan menawar sedangkan Kushina hanya diam dan mengikuti. Kushina memang tidak tertarik dengan berbelanja dan memasak. Tapi Mikoto sebaliknya, pintar dalam menawar harga dan memasak. 'Mikoto memang cocok jadi ibu rumah tangga yang baik'. kata Kushina dalam hati.
Setelah selesai berbelanja bahan makanan, Kushina dan Mikoto memutuskan kembali ke rumah terlebih dahulu untuk menyimpan bahan-bahan makanan dan menyimpan kimono milik Mikoto. Baru setelah itu mereka berdua akan pergi ke taman melihat Momiji. Untunglah pasar tradisional itu tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Ketika mereka akan sedang berjalan, mereka berdua melihat kerumunan wanita-wanita remaja di depan sebuah toko penjual barang-barang elektronik. Toko tersebut sering memajang televisi-televisi terbaru yang super canggih.
"Ada apa disana ya? Ramai sekali". Tanya Mikoto heran.
"Entahlah. Untuk apa mengurusi hal begitu". Kushina tak tertarik. Namun Mikoto malah mendekati kerumunan itu dan bertanya pada salah satu gadis remaja.
"Sumimasen. Ada apa ini kalian semua berkerumun di depan toko itu?".
"Oh itu mereka sibuk ingin melihat pacar Kana Nishino. Pacarnya itu sangat tampan". Kata gadis remaja itu dengan semangat.
"Tuh kan benar". Kushina melirik sinis melihat kerumunan para gadis-gadis itu.
"Dia sangat tampan sekali lho kak. Rambutnya pirang acak-acakan. Matanya berwarna biru kayak orang Amerika gitu deh. Oh iya pacarnya itu kan memang ada turunan Amerika". Lanjut gadis itu.
DEG
Kushina merasa ada sesuatu yang aneh. Mikoto syok mendengar penuturan remaja itu.
"Benarkah?". Mikoto memastikan
"Tentu saja, coba liat sendiri. Aku yakin kakak pasti akan terpukau".
Kushina langsung sweetdrop. Ia lalu mencoba untuk berusaha menerobos kerumunan itu. Setelah berusaha akhirnya ia ada di posisi terdepan. Ia terperangah melihat siaran acara yang ada di televisi itu. Mikotopun sudah ada di samping Kushina. Matanya membulat ketika melihat seorang pria yang ia kenal ada di tayangan televisi itu. Mikoto melirik Kushina takut sahabatnya itu kenapa-kenapa.
Dalam sebuah restoran, reporter kami menangkap pemandangan yang cukup menggemparkan. Kana Nishino, penyanyi cantik juga pemain film tersebut terlihat bersama seorang pria tampan sedang asik bermesraan. Ketika keesokan harinya di konfirmasi ternyata itu adalah tunangan dari Kana Nishino. Pria tersebut bernama Namikaze Minato.
Entah apa yang terjadi bulir-bulir air mata keluar dari kelopak mata Kushina. Ketika video Minato di tayangkan para gadis-gadis itu berteriak seperti kerasukan. Kushina langsung ingin pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia berusaha keras untuk keluar dari kerumunan dan mencoba menghapus air matanya. Kushina merasa hatinya begitu sesak dan sakit. Ia mencoba berlari namun yukata membuatnya sedikit kesulitan. Setelah sampai ke tujuan, dengan langkah gontai ia masuk ke dalam dan ia terduduk di satu-satunya pohon yang ada di halaman itu. Mencoba menenangkan dirinya. Tak berapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang mendekatinya. Mikoto terengah-engah.
"Kau terlalu cepat. Aku sulit sekali keluar dari kerumunan itu". Mikoto jatuh terduduk di samping Kushina.
"Maafkan aku Mikoto". Kushina memeluk lututnya. Ia menenggelamkan wajahnya.
"Tidak apa. Aku mengerti". Mikoto mencoba memeluk Kushina.
"Sepertinya aku akan menolaknya".
"Tapi kau?"